RSS

Prinsip ahlusunnah dalam mengambil dalil

06 Jun
     

1.sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam yang shahih dan Ijma’ Salafush Shalih

2.Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam wajib diterima, walaupun sifatnya ahad (Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir) . Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” [QS. Al-Hasyr :7]

3.Yang menjadi rujukan dalam memahami Al-Qur’an dan As-sunnah adalah nash-nash (teks Al-Qur’an maupun Hadits) yang menjelaskannya, pemahaman salafush shalih dan para imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa arab.

4.prinsip-prinsip utama dalam agama (Ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamaku, dan telah kucukupkan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhoi Islam menjadi agama bagimu” [QS.Al-Maidah:3]
Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalannya tertolak” [HR.Bukhari (no.2697) dan Muslim (no.1718) dari ‘Aisyah Rodiallahu’anhu]

5.berserah diri (Taslim), patuh dan taat hanya kepada Allah Subhanahu wata ‘ala dan Rasulnya, secara lahir bathin. tidak menolak sesuatu dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, baik menolaknya dengan qiyas, perasaan, kasyf, ucapan syaikh, atau pendapat imam2 dan lainya.

6. dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/ nash yang shahih. sesuatu yang qath’i (pasti) dari kedua dalil tersebut tidak akan bertentangan selamanya. apabila sepertinya ada pertentangan diantara keduanya, maka dalil naqli harus didahulukan.

7.Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam adalah ma’shum dan para sahabat rodiallahu ‘anhu secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan di atas kesesatan.Namun secara individu dari para sahabat tidak ma’shum.

8.bertengkar dalam masalah agama adalah tercela, tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru’ah (disyariatkan), dalam hal yang telah jelas (ada dalil dan keterangannya dalam Al-Qur’an dan As-sunnah). Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “tidaklah sesat suatu kaum setelah Allah memberikan petunjuk atas mereka kecuali mereka berbantah-bantahan kemudian membacakan ayat: ‘… mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja…”(QS.Az-Zukhruf :58)”[HR.At-Tirmidzi (no.3250) hadits hasan]

9.kaum muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘Aqidah dan dalam menjelaskan sesuatu masalah.

10.setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya didalam agama adalah bid’ah. setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. Rasulullah Sollallohu ‘alaihi wasallam bersabada : “setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di NEraka” [HR. An-Nasai (III/189) dari Jabir rodiallahu ‘anhu dengan sanad shahih)

sumber : kitab “syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” penulis : Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas

 
Leave a comment

Posted by on 6 June 2007 in Artikel Dien

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: